Beautiful Stranger 11

Seperti biasanya club sangat ramai oleh para pengunjung “Ya Ambroo kenapa wajahmu berseri-seri? apa kau sedang jatuh cinta?” goda Key yang menyikut bahu Amber.

“Lalu mengapa kalau aku sedang jatuh cinta?” jawabku yang masih membersihkan gelas.

“Ya!! jadi kau benar-benar sedang jatuh cinta!!” haishh mengapa dia harus berteriak di dekat telingaku?

“Key! apa kau tidak bisa pelankan suaramu sedikit?” tatapku kepadanya.

“Kau benar-benar mengejutkanku! jadi kau benar-benar sedang jatuh cinta? dengan siapa! waaah aku tidak menyangka! lalu siapa yeoja itu, beritahu kepadaku kau kan sahabatku” haishh mengapa dia bawel sekali, tapi apakah aku benar-benar sedang jatuh cinta?

“Kau tau darimana kalau aku sedang jatuh cinta?”

“Tentu saja aku tahu, itu sangat terlihat jelas diwajahmu! biar aku tebak….” aku menatapnya serius.

“Kau habis berkencan kan dengan kekasihmu bukan? hahahahha” haishhhh anak ini.

“lihat wajahmu saja menjadi merah! waah Amber Liu aku tidak menyangka kau akan jatuh cinta dan menyukai yeoja. Aku kira kau akan trauma dengan yeoja karena banyak yang mengejarmu hahaha”

“Siapa yang sedang jatuh cinta?” terdengar suara yang tidak asing bagiku.

“Jessica?” benar-benar membuatku kaget! sejak kapan dia ada di meja bar?

“Amber aku pergi ke dapur, kau layani tamu mu dengan baik bye” haish Key malah kabur, dan aku harus menjawab apa kepada Jessica sedangkan aku saja tidak tahu perasaanku saat ini.

“Mengapa kau tidak menjawab? apa kau benar-benar sedang jatuh cinta?” apakah dia benar-benar serius bertanya padaku tentang ini?

“Ah aku tidak tahu”

“Tidak tahu bagaimana? kau lucu sekali” Jessica menggelengkan kepalanya.

“Kau ingin minum apa?” tawarku mengalihkan perhatian.

“Ehmm aku ingin soda saja aku sedang tidak ingin meminum alkohol”

“Baiklah” aku segera menyiapkan minuman untuk Jessica.

Setelah aku menyiapkan minuman untuknya “Kemana dia pergi?” aku menoleh ke kanan dan ke kiri, kemana perginya Jessica? apakah dia sudah pulang?

Drrinngg drrringgg” aku menoleh ke arah sumber suara yang dimana Jessica duduk tadi.

“Apakah itu ponselnya?” aku mendekati ponselnya memastikan itu ponsel Jessica atau bukan dan…

Apa???!!! aku melihat sebuah panggilan masuk dengan bertulisakan “Ibu?” dengan sebuah foto Jessica dengan seorang wanita yang lebih tua darinya dengan wajah yang bahagia tetapi…

Mengapa wajahnya mengingatkanku kepada…

Kepada foto yang dimiliki Krystal??

“Kau sedang apa?”

“Ah kau mengagetkanku saja!” aku mengelus dadaku yang secara tiba-tiba Jessica datang ntah darimana.

“Kenapa dengan wajahmu?”

“Haha tidak ada, kau darimana?”

“Aku dari kamar kecil” jawabnya polos.

“Oh ini minuman mu” ku berikan segelas soda untuknya.

“Terima kasih” Jessica langsung meminum sodanya.

“Ehmm apakah itu ponselmu?” Jessica menatapku dengan menganggukan kepala.

“Ehmm tadi aku melihat ada panggilan masuk di ponselmua”

“Benarkah?” Jessica langsung membuka ponselnya.

“Biarkan saja” lalu menaruh ponselnya kembali.

“Jessica”

“Ya?” apakah aku harus menanyakan hal ini padanya? tapi aku benar-benar pensaran.

“Ehmm apakah foto yang di ponselmu adalah foto dirimu dengan ibumu?” Jessica hanya menatapku dan errghhh mengerikan!

“Ya” jawaban singkat yang membuat jantungku berdetak sangat cepat! mungkinkah dia dan…

“Ada apa kau bertanya seperti itu?” aku menarik nafasku untuk membuat tubuhku rileks.

“Tidak ada, ibumu benar-benar cantik seperti dirimu” senyumku tetapi dia tidak membalas senyumanku okay baiklah itu tidak masalah bagiku selama iya tidak menatapku dengan tatapan yang mematikan, bahkan tatapan nya sama mematikan dengan Krystal! membuat buluku merinding saja…

Kami berdua diam sejenak dan suasana menjadi canggung karena pertanyaanku tadi tapi aku benar-benar penasaran.

“Benar-benar membuatku gila” senyum kesedihan di wajah Jessica benar-benar membuatku ikut terhanyut di dalam kepedihan hatinya. Ada apa dengan dirimu Jessica?

“Kau bisa cerita kepadaku” Jessica menatapku dan kami saling bertatapan.

“Benarkah?”

“Ya, aku memiliki waktu yang begitu banyak untuk mendengarkan ceritamu” senyumku pada Jessica.

“Apakah aku bisa mempercayaimu?” tanyanya dengan mata yang tajam.

“Tentu saja, aku bukan tipe orang yang mengumbar umbar cerita orang lain. jadi kau bisa percaya kepadaku sepenuhnya” senyumku padanya yang masih menatapku dengan memegang gelas miliknya.

Jessica diam sejenak dengan memutar-mutar gelasnya “Harus ku mulai darimana?” tatapnya kepadaku.

“Darimana saja, aku pasti akan mendengarkan seluruh kata katamu” aku duduk berhadapan dengan Jessica agar aku lebih mudah untuk menyerap ceritanya yang sungguh membuatku penasaran.

Jessica meneguk segelas soda dingin dengan sekejap “Huffhh” Jessica menarik nafasnya.

Author Pov

“Aku, ibu dan ayah, hidup kami benar-benar harmonis. Ibu selalu menyiapkan makanan untuku dan ayah dan begitu juga ayah yang selalu ada di saat aku dan ibu membutuhkan nya yang jelas keluarga benar-benar harmonis pada saat itu dan keluarga kami tidak sedikitpun kekurangan dalam kebutuhan sehari hari terutama keluarga kami tidak kekurangan terhadap uang” Jessica memutar mutar gelasnya.

“Dan terlebih lagi aku memiliki sahabat yang benar-benar ada di saat aku sedih di saat aku senang dan di dalam segala suasana mereka selalu ada di sampingku, dan lagi aku menyukai seorang namja yang salah satunya adalah sahabatku” senyum Jessica.

“Tapi waktu begitu cepat mengubahnya, keadaan menjadi terbalik. Perusahaan ayahku menjadi bangkrut karena hutang yang begitu banyak, terlebih lagi ibuku yang mulai mengigau dan terus melamun tanpa mengurus diriku dan ayah”

“Keluarga kami benar-benar berantakan bahkan sehari-hari aku hanya memakan mie ramen, meja makan yang dulunya sangat hangat kini berubah menjadi sangat hampa dan begitu dingin, terlebih lagi ayahku memutuskan untuk pergi ke luar negri karena iya takut di kejar-kejar oleh penagih hutang dan dia juga tidak akan betah di rumah dengan kondisi yang seperti layaknya neraka” ucap Jessica.

“Dan ibuku sehari hari hanya diam di teras rumah dengan memandang langit tiada hentinya bahkan iya kerap kali tertidur di teras rumah dengan menyebut nama Kim Tae Jung” senyum lirih Jessica.

“Aku tidak tahu mengapa ibu tiba tiba seperti itu, tapi dia pernah mengatakan bahwa dia pernah bertemu dengan cinta pertamanya itu yang berasal dari langit. gila bukan? semua orang menganggap ibuku gila bahkan ayahku juga berkata demikian”

“Tapi kau masih memiliki sahabatmu bukan? aku yakin mereka akan selalu membantumu” ucapku menatap Jessica.

“Tidak” senyumnya yang kini kedua bola matanya mengarah kepadaku.

“Tidak? maksutmu? bukankah mereka sahabatmu”

“Mereka, para sahabatku selalu ada untuku tapi mereka tidak mengetahui ceritaku yang sebenarnya karena aku.. Karena aku merasa malu dan aku takut mereka akan menjauhiku bila aku menceritakan tentang keluargaku kepada mereka. Kau tahu, mereka semua adalah kalangan dari orang kaya apakah mereka mau menerimaku yang jatuh misikin dan memiliki ibu yang gila?” lirih Jessica.

“Dan pada saat itu aku selalu menghindar dari mereka, aku tidak ingin bertemu dengan mereka, aku tidak ingin mereka menatapku dengan iba ataupun menatapku dengan tatapan yang menjijikan. Aku tidak ingin melihat mereka seperti itu kepadaku Am”

“Setiap harinya aku selalu pergi ke club, meminum minuman alkohol dan mabuk mabukan untuk menghilangkan pikiranku yang penat. Dan pada akhirnya aku menemukan sosok namja yang lebih dewasa dari pada diriku, aku rasa dia tertarik kepadaku dan akhirnya kami memutuskan untuk menjalin kasih” wajah Jessica menjadi sedih.

“Sebenarnya aku tidak menyukai dirinya tapi.. tapi dia sangat kaya,  dia adalah seoarang pengusaha ternama di Cina dia selalu membantuku bahkan untuk sehari hari dia yang mengurusku dan ibuku hingga akhirnya dia membawa kami ke Cina dan hidup bersama di sana” Jessica meneguk segelas soda.

“Aku berusaha untuk menyukainya tapi tetap tidak bisa, hatiku tetap milik namja yang selama ini aku rindukan, namja yang selalu melindungiku dan menyayangiku. Lalu aku memutuskan kembali ke Seoul karena aku sangat merindukan kota ini, saat aku berjalan di taman tempat aku dan sahabat-sahabatku menghabiskan waktu beberapa tahun yang lalu aku bertemu kembali dengan namja yang aku cintai, wajahnya sama sekali tidak berubah hanya badan nya yang tumbuh lebih tinggi dan berisi tapi….”

“Tapi dia bersama yeoja lain” senyumnya.

“Yeoja yang menurutku sangat pantas untuknya”

“Apakah dia pacar namja yang kau sukai?” tanya Amber.

“Aku tidak tahu, yang jelas aku bisa melihat raut kebahagiaan di wajahnya, aku tidak ingin dia terluka lagi karena diriku, aku tidak ingin dia terus menungguku”

“Kau sangat mencintainya bukan? lalu mengapa kau tidak ingin bertemu denganya? setidaknya kau bisa mengutarakan isi hatimu kepadanya” respon Amber.

“Dia pasti sudah membenciku begitu pula dengan sahabat sahabatku Am”

“Kau tau dari mana mereka membencimu Sica?”

“Karena aku telah membuat sahabat mereka menderita. Benar benar menderita karena diriku, membuat Yuri hampir bunuh diri karena diriku” Jessica dan Amber bertatapan.

“Yuri?” ucap ulang Amber.

“Ya Yuri, namja yang selalu ada di hatiku” senyum Jessica.

“Tapi setidaknya kau mencoba Sica”

“Itu tidak akan berhasil Amber” Jessica meneguk minuman soda yang iya minum.

“Lalu? kau menyerah begitu saja, kau menyerah dengan keadaan yang seperti ini? ketika hatimu menentang perbuatanmu tapi kau masih saja melakukan nya tanpa dengan hati yang tulus” Jessica menatap Amber.

“Kau tidak tahu Amber” senyum Jessica.

“Aku tahu Sica, aku tau. Aku bisa melihat bagaimana menderitanya dirimu, aku bisa melihat bagaimana kesepiannya dirimu. Kau terlalu banyak mengorbankan perasaanmu untuk ke egoisanmu, kali ini bisakah kau menuruti apa kata hatimu? bisakah itu Jessica?” tatap tajam Amber.

“Itu tidak mudah Amber Liu”

“Aku tahu, tapi bisakah kau mencoba nya terlebih dahulu sebelum menyerah?”

Jessica tersenyum mendengar apa yang di ucapakan Amber “Terima kasih” senyum Jessica.

“Untuk apa kau berterima kasih?”

“Kau banyak membantuku” Amber tersenyum mendengarnya.

“Kau kini bukan hanya sekedar tamu spesial tapi kau kini menjadi temanku dan apapun masalah kau bisa cerita kepadaku kapanpun kau mau aku akan selalu ada untukmu” senyum Amber.

“Wanita itu sangat beruntung mendapatkanmu”

“Mwo?”

“Iya, yeoja yang kabarnya membuatmu jatuh cinta” goda Jessica.

“Ahh aniyoo” Amber mengelak.

“Jadi wanita seperti apa dia? aigooo jika yeoja yeoja di club ini tau kau mencintai seoarang yeoja aku yakin kau tidak akan bisa selamat keluar dari club ini hahhaha” tawa Jessica.

“Haish yang benar saja” Amber melihat gelas Jessica yang sudah mulai habis.

“Akan ku ambilkan minuman lagi” Jessica mengangguk.

“Tapi…” Amber menghentikan langkahnya karena mengingat sesuatu di benaknya.

“Jessica” Jessica menoleh.

“Ya”

“Kau pernah mengatakan bahwa kau memiliki saudara dari ibumu”

“Ah iya, ibuku selalu mengucapkan namanya. Dia selalu mengucapkan namanya, lalu aku berkata kepada ibuku. Siapa dia ibu? lalu ibuku menjawab bahwa dia adalah saudara perempuanku yang terpisah olehnya” ucap Jessica.

“Sa-sa-saudara perempuan??” bingung Amber.

“Ya seoarang anak perempuan hasil dari Kim Tae Jung, aku selalu penasaran siapa sebenarnya Kim Tae Jung nama itu membuatku gila tapi…” Jessica menghela nafas.

“Tapi aku tidak pernah mendepatakan informasi apapun tentangnya bahkan aku sudah membongkar semua lemari ibuku agar aku bisa menemukan petunjuk, tapi sayangnya aku tidak bisa menemukan nya bahkan sebenarnya ayahku tau mengenai hal ini, tetapi ia hanya diam karena ayahku beranggapan bahwa ibuku telah melupakan sosok dewa tersebut. Bahkan ayahku saja tidak tau seperti apa sosok Kim Tae Jung. ibuku bilang itu percuma karena dia tidak ada di bumi” Amber terkejut mendengarnya.

“Tidak ada di bumi? apakah maksut ibumu dia telah mati?” tanya penasaran Amber.

“Awalnya aku berfikir hal yang sama sepertimu, tapi itu salah Am. Hingga pada akhirnya  Ibuku mulai menceritakanya semuanya bahwa dia tinggal di suatu planet yang tidak akan bisa di jangkau oleh manusia biasa seperti kita. Kim Tae Jung adalah seorang dewa nan tampan dimana dia dan ibuku saling mencintai hingga lahirlah seorang bayi mungil yang membuat mereka berdua bahagia” Jessica menatap Amber.

“Lalu?”

“Kim Tae Jung menawarkan ibuku untuk tinggal bersamanya tapi ibuku menolak karena dia tidak ingin tinggal di tempatnya, karena ibuku tidak ingin tinggal bersamanya maka bayi kecil itu di ambil oleh dewa Kim sebagai ganti ibuku di sisinya”

“Lalu dimana dia? dimana bayi perempuan itu Sica?” tanya Amber.

“Aku tidak tahu Am” Amber sedikit kecewa mendengarnya.

“Tapi…” Amber menatap Jessica.

“Tapi akhir akhir ini ibuku bermimpi tentang sosok yeoja yang begitu cantik begitu mempesona yang tersenyum indah di hadapanya tapi…”

“Tapi yeoja itu terlihat sedang sekarat dan memerlukan bantuan, yeoja itu semakin hari semakin lemah dan tidak berdaya. Ibuku mengatakan bahwa iya yakin itu adalah anak perempuan nya, ibuku mengatakan bahwa iya bisa merasakan kehadirannya, dia bisa merasakan bahkan ibuku bisa merasakan sakit serta penderitaan yang di hadapi nya” Amber menatap Jessica dengan tatapan serius.

“Berarti dia bukanlah sosok manusia sepenuhnya bukan?” tanya Amber yang di balas Jessica dengan anggukan.

“Dia adalah manusia setengah dewa Am” jawab Krystal.

“Aku berasal dari J’adoreA”

“Aku adalah anak dewa Jung Kim!”

“Aku adalah manusia setengah dewa dan aku memiliki kekuatan”

Terpintas kata kata itu di benak Amber yang membuat Amber berfikir keras.

“Amber?” Amber menatap Jessica.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya heran Jessica.

Amber menatap wajah Jessica “Jessica”

“Ya”

“Apakah..”

“Apakah kau tahu nama saudara perempuanmu itu?” tanya Amber serius.

“Ne” jawab singkat Jessica.

“Bolehkah…” Amber menelan salivanya.

“Bolehkan aku mengethui siapa nama saudara perempuanmu itu??”

Jessica dan Amber bertatapan “Namanya..”

“Namanya adalah…”

Amber tidak perkedip seditikpun menanti jawaban Jessica.

“Namanya adalah..”

“Krystal” Mata Amber terbuka lebar saat mendengar nama yang iya dengar.

“Krystal Jung Soojung”  dup dup dup jantung Amber berlari dengan cepat, pikiran nya menjadi bingung dan tubuhnya menjadi kaku bahkan iya tidak bisa mengatur nafasnya.

“Krystal” ucap Amber.

“Krystal Jung Soojung” ucap Amber dengan menatap kedua bola mata Jessica.

Hari ke 25

Amber, sosok namja yang akhir akhir ini terlihat tidak seperti biasanya, Amber yang ceria mulai terlihat diam. Pikiran nya di penuhi oleh Krystal, Amber terus memikirkan Krystal bahkan iya terus mengkhawatirkan nya, rasanya ingin sekali saat ini Amber berlari mengejar dimana Krystal berada dengan menjaganya dan terus berada disisinya. Ntah apa yang Amber rasakan kini sungguh membuatnya bingung, Amber kini mengetahui bahwa Jessica dan Krystal adalah kakak beradik tapi.. tapi bukan itu yang iya permasalahkan, yang Amber permasalahkan adalah arti sebuah mimpi dari ibu Jessica.

Apalagi beberapa akhir ini Amber terus melihat Krystal yang terkadang terlihat lemah dan pingsan bahkan iya sering melihat Krystal menangis di dalam tidurnya. tapi Krystal selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkan dirinya “Apa arti sebuah mimpi itu? apakah itu nyata? apakah itu sebuah pertanda?”

“Apa yang kini kau rasakan Krystal? bisakah kau membaginya denganku? bisakah kau membagi kesedihamu kepadaku?” Amber membuka ponselnya dan melihat  sosok yeoja yang sedang tersenyum dengan memegang boneka teddy bear besar.

“Apa yang kau sembunyikan dariku? apa di balik senyuman mu ini Krystal?” lirih Amber.

Amber memejamkan matanya sejenak dengan membayangkan wajah Krystal yang tersenyum indah di wajahnya, membayangkan wajahnya di kala iya marah karena Amber yang kerap kali terlihat luka luka di wajahnya, membayangkan tingkahnya yang terkadang terlihat seperti anak kecil. Mencoba mengingat bagaimana tangan Krystal dan Amber saling bersentuhan satu sama lain bahkan saat ini Amber merindukan sentuhan yang di miliki oleh Krystal.

“Aku gila” senyum Amber yang masih memejamkan matanya.

“Aku gila karenamu Jung Soojung”

“Aku benar-benar tidak berguna”

“Aku membenci diriku”

“Aku membenci diriku yang tidak dapat berbuat apa-apa di saat kau membutuhkanku!” Amber meremas kedua tanganya.

“Aku tahu kau menderita, aku tahu kau begitu takut”

“Tapi aku…” Amber memejamkan matanya dengan erat.

“Tapi aku malah tidak berbuat apa-apa, aku takut…”

“Aku takut mendengar hal yang buruk bahkan hal yang akan membuatku menjadi gila bila mendengarnya darimu Krystal”

“Mianhaeyo..”

“Aku terlalu takut, aku terlalu takut untuk mengethui peraasaanmu karena aku benar-benar takut akan kehilanganmu…” nafas Amber mulai terasa berat.

“Maafkan servantmu yang bodoh ini princess” bibir Amber mulai bergetar.

“Bila..”

“Bila ada sesuatu yang membuatmu kembali tersenyum ataupun kembali membuatmu bahagia seperti dulu aku akan melakukan apa saja untukmu”

“Bahkan…”

“Bahkan aku siap mempertaruhkan nyawaku untukmu Krystal Jung” Amber meneteskan airmatanya.

Sementara itu…

Krystal terlihat duduk di tengah pusat keramaian yang berlalu lalang di dekatnya. Krystal terlihat melamun, Krystal terlihat bingung, dia tidak memperdulikan orang orang yang di sekitarnya yang iya pikirkan saat ini adalah bagaimana iya bisa bertahan dengan keadaannya yang semakin hari semakin melemah.

Krystal Pov

Apa yang mereka lakukan? apa yang mereka rasakan saat ini? tawa, canda, tangis, bahagiakah yang mereka rasakan? atau adakah diantara mereka semua yang bernasip sepertiku? atau hanya aku yang merasakan takdir yang seperti ini, dimana 25 hari lagi aku akan bertemu dengan ajalku?

“Miris”

Setidaknya di sisa hariku ini aku mendapatkan kebahagiaan. Aku kira selama aku disini aku tidak akan pernah bisa tersenyum aku tidak akan bisa tertawa, tetapi..

Tetapi semua yang kukira adalah salah besar, aku begitu beruntung bisa mengenalnya aku begitu beruntung bisa bersamanya di setiap hariku.

“Terima kasih” kupandang sebuah foto yang ku ambil secara diam-diam saat aku dan dia berlibur di pulau Nami. Kenangan yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku yaitu saat bersamanya.

Setidaknya walaupun aku akan mati, aku masih bisa tersenyum bahagia.

Uhuk Uhuk” ah sial, apakah udara sore ini terlalu dingin hingga membuatku batuk?

“Huffhh” aku menggosok kedua tanganku mencoba menghangatkan badanku, mencoba berfikir positif bahwa aku saat ini baik-baik saja.

“Aku baik-baik saja” aku hela nafas ini.

“Kring kring” ku ambil ponselku yang kuletakan di saku celanaku.

“Yeoboseyo oppa” senyumku kepada namja yang begitu baik denganku.

“Krystal kau dimana? tumben sekali kau belum datang?” tanyanya cemas.

“Kau tidak usah khawatir oppa, aku sedang menunggu bus. Kau tidak perlu khawatir”

“Apa kau ingin aku jemput? akhir akhir aku melihatmu seperti tidak enak badan” aku tersenyum mendengarnya.

“Aku tidak apa-apa oppa”

“Hmm baiklah tapi bila ada sesuatu atau apapun itu kau harus memberitahuku, apa kau mengerti?” 

“Iya, bye”

“Baiklah” aku menutup panggilan dari Yuri oppa dan pas sekali bus yang ku tunggu telah datang, begitu ramai sekali hingga aku harus mengalah saat ini masuk ke dalam bus ini.

Saat ku rasa keadaan mulai renggang aku mulai melangkahkan kakiku dengan mengeratkan tas di bahuku. Tetapi, tetapi ada sesuatu yang menahan langkahku seperti ada perasaan yang begitu kuat, sangat kuat hingga langkahku tertahan oleh perasaan ini.

Mataku melihat sekliling mencari sesuatu apa yang terjadi berusaha menangkap sesutau di benaku dan ternyata…

Hanya membutuhkan waktu beberapa detik mataku tertuju kepada satu arah, jantungku berdebar dengan begitu cepat bahkan tubuhku merasa lumpuh saat aku menatapnya dari sebrang jalan dengan rambut panjang yang tergerai serta wajah yang begitu sendu di tepi jalan.

Mulutku bungkam.

Mataku tidak bisa terpejam.

Kakiku tidak bisa bergerak.

Bahkanku bisa meraskan waktu seakan berhenti memihak kepadaku.

Apakah yang aku lihat kali ini nyata? apakah yang ku lihat ini benar? apakah aku bermimpi? semenjak aku di lahirkan aku tidak pernah melihatnya, mendengarnya, bahkan aku tidak tahu bagaiamana hembusan nafasnya yang begitu hangat.

“Eom…” bahkan bibirku bergetar.

“Eomma” aku merasakan mataku yang begitu panas hingga air mengalir dari mataku.

“Eomma” bibirku bergetar hebat bahkan nafasku terasa sesak benar-benar sesak.

“Eomma” aku menggeser langkahku berusaha untuk berjalan ke arahnya, sedikit demi sedikit ku gerakan kedua kakiku. Kakiku yang terasa mati rasa kini berjalan dengan ke arahnya tanpa menghiarukan apapun di sekelilingku.

Tiiinnnnn!!!” suara nyaring menusuk telingaku yang membuat diriku terkejut.

“Ya!! kau yeoja gila, apa kau ingin mati hah!!” aku tidak tahu apa yang di katakan yang jelas dia terlihat sangat marah dan aku segera membungkukan badanku.

“Choesonghamnida” aku kembali membungkuk, ku memutar mata ini dan kembali mencari sosoknya yang sedikit mulai hilang dari pandangan mataku.

“Eomma!” aku berlari kencang dengan mataku yang terasa buram karena air yang mengganjal di kedua bola mataku.

Tolong, aku ingin bertemu dengan nya. Aku ingin sekali bertemu dengan eommaku!

“Ya! perhatikan jalanmu bodoh!” aku terus berjalan tanpa memperdulikan apa yang ada di sekitarku.

“Eomma!!!” teriaku sekuat tenaga agar iya bisa mendengarku.

“Eomma…”

“Eomma jangan tinggalkan aku!” air mata ini semakin deras hingga membuatku terjatuh lemas tak berdaya.

“Mengapa?!! mengapa kau pergi? mengapa kau pergi meninggalkanku!” aku menangis, aku menangis seperti orang yang kehilangan akal sehat.

Apa ini? mengapa, mengapa tiba-tiba tubuhku terasa sangat sakit, mengapa pandangan ku merasa tidak jelas, kepalaku juga terasa pusing, apa ini? seseorang tolong aku”

Back to Amber…

“Amber Liu!!” teriak guru yang sedang memandang Amber dengan wajah yang marah.

“Ne” jawab singkat Amber.

“Apakah aku harus mengeluarkanmu dari kelas ini lagi??” tanya sang guru.

“Joesong-hamnida” tunduk Amber.

“Kriiingg krrinngg krrinngg”  semua murid bersorak gembira karena jam sekolah mereka telah usai.

“Amber”

“Ne” senyum Amber.

“Apa kau tidak apa-apa?” khwatir Suzy yang melihat sahabatnya terus merenung.

“Kwaenchana” senyum Amber dengan merapikan isi bukunya ke dalam tas.

“Ayo kita pulang” ajak Amber kepada Suzy.

Suzy dan Amber menelusuri koridor bersama, sesekali Suzy menatap sahabatnya “Amber” Suzy menahan bahu Amber untuk mengentikan jalan nya.

“Amber, ada apa denganmu?” tatap Suzy.

“Aku tidak apa-apa Suzy” senyum Amber.

“Keojitmal!” Suzy dan Amber saling bertatapan.

“Kau sahabatku, kau adalah sahabatku satu satunya Am. Kita sudah saling mengenal satu sama lain” tatap Suzy.

“Suzy” Amber memegang kedua pundak Suzy dengan menatap matanya.

“Kau adalah sahabatku yang paling baik, tidak. Kau adalah orang yang terbaik yang pernah aku kenal” senyum Amber.

“Sudah dari dulu kau selalu membantuku, kau selalu ada di saat aku benar-benar membutuhkan bantuan ataupun membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahku” hela nafas Amber.

“Kau sudah terlalu banyak memabantuku sahabat terbaiku”

“Tapi…”

“Suzy, kau ada disini bersamaku itu sudah cukup membantuku. Aku tidak ingin terus merepotkanmu dan lagi pula aku baik-baik saja bukan? jadi kau tidak perlu khawatir, komawoyo” senyum Amber.

“Sekarang pulanglah supirmu sudah menunggu dari tadi” Suzy menatap Amber.

“Baiklah tapi bila kau membutuhkan sesuatu kau harus bilang kepadaku arasso!” Amber membalasnya dengan anggukan dengan menatap Suzy yang mulai masuk ke dalam mobil sedan hitam mewah miliknya.

Setelah Suzy hilang dari pelupuk mata Amber, Amber mulai berjalan keluar gerbang sekolahnya sedangkan dari ke jauhan terlihat beberapa orang yang mengintai Amber dengan sebatang rokok di tangan kanan nya.

Amber yang tengah berjalan santai mulai di ganggu oleh beberapa anak yang berseragam sama denganya “Ohh kita bertemu lagi?” Amber menghela nafas lelah karena melihat sekelompok orang bodoh di depannya.

Seorang namja yang lebih tinggi dari Amber menghampirinya dengan stick baseball yang di pegang olehnya “Akhirnya kita bertemu juga” senyumnya licik.

“Ada apa?” tanya Amber dengan tidak menatap para namja yang di depan nya.

“Kami merindukanmu, apa kau tidak tahu itu?” namja-namja itu mulai mengelilingi Amber dengan membuat lingkaran.

“Aku ingin pulang” langkah Amber tertahan.

“Mengapa buru-buru sekali hah? aku ingin bermain denganmu” Amber masih tertunduk.

“Apa kau tidak pernah di ajar oleh orang tuamu untuk menatap orang yang sedang bicara denganmu hah?!”

“Kau benar-benar tidak memiliki sopan santun, tatap mataku bila aku bicara denganmu” namja itu menggunakan stik baseballnya untuk mengangakat dagu Amber.

“Aigooo lihat wajah sih misikin ini hahaha” Amber tidak memperdulikan mereka sama sekali.

“Bagaiamana kalau kita bermain sebentar? Sehun, bisakah kau lemparkan bola itu kepadaku?”

“Tentu saja Kai” Kai berjalan lima langkah menjauhi Amber dengan memposisikan badanya layaknya pemain baseball.

“Ayo kita bermain” Sehun mulai melempar bola baseball itu dan..

“Dup!” bola itu mengenai bahu Amber.

“Ahh! meleset!” kesal Kai.

“Kau harus memukul nya lebih kuat” ujar Lay.

“Baiklah” Kai bersiap-siap kembali dan..”

“Dup!” semua orang bersorak karena bola itu mengenai bibir Amber.

“Woaaahhh aku hebat bukan hahaha” Amber hanya diam.

Pukulan demi pukulan mengenai Amber hingga wajahnya mengeluarkan darah yang membuatnya terjatuh bertekuk lutut di pasir yang kasar, tapi tetap seberapa kerasnya tindakan yang mereka lakukan kepada Amber, Amber tidak akan pernah membalasnya.

“Ayo bangun! permainan kita belum selesai! hahaha” Amber menatap mereka semua, dengan menghela nafas yang panjang Amber mencoba bangkit walaupun tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menerima pukulan dari mereka.

“Ayo kita mulai lagi” Kai bersiap siap kembali memukul Amber.

“Krrinngg Kriinggg” suara dering ponsel membuat mereka kaget.

“Ponsel siapa itu?” tanya Sehun, Kai menatap Amber yang dimana Amber merogoh kantong celana nya yang kusam.

“Princess?” ucap Amber dengan kulit bibirnya yang mengelupas merah.

“Yeoboseyo”

“Am…”

“Princess” semua orang memperhatikan Amber.

“Amber…” suara Krystal membuat Amber khawatir.

“Princess ada apa?” tanya Amber tanpa memperdulikan mereka.

“Amber…”

“Amber, ini terasa sakit” suara Krystal terdengar lemah tidak bertenaga.

“Apa? apa maksutmu?!”

“Sakit sekali rasanya, apakah aku akan mati?”

“Apa yang kau bicarakan!! kau dimana? kau dimana sekarang katakan kepadaku!” cemas Amber.

“Kau tidak perlu khawatir” Krystal berusaha tersenyum.

“Kau dimana aku akan menyusulmu!”

“Tuuutt tuutttt….” sambungan telfon mati.

“Hallo!” teriak Amber.

“Hallo!!”

“Krystal kau dimana! katakan kepadaku kau dimana Krystal?!” teriak Amber frustasi.

Amber mulai berlari tapi…

“Lepaskan aku Kai” Amber dan Kai saling bertatapan.

“Siapa? siapa orang itu?”

“Kubilang lepaskan!” mereka semua menatap Amber dengan Kai.

“Siapa yang di telfon itu?!!” teriak Kai.

Amber mecengkram tangan Kai dan memukul wajahnya dengan sangat kuat, dan kemudian Amber kembali berjalan.

“Tahan dia!!!” teriak Kai dengan memegang wajahnya yang terluka.

Sehun, Lay dan Xiumin berusaha menahan Amber “Apa?” tatapan Amber membuat mereka semua menjadi takut, Amber yang biasanya tidak berani menatap mereka kini dia menatap dengan tatapan yang mematikan.

“Apa kalian ingin mati?” tanya Amber.

“Tahan dia!” teriak Kai dan Lay memegang badan Amber tetapi sayang gerakan Amber jauh lebih cepat hingga Amber membanting tubuh Lay ke tanah dengan kuat.

Dan Sehun mulai ingin memukul Amber tetapi sayang pukulan nya meleset dan Amber membalas dengan tendangan yang tepat mengenai perutnya hingga iya terjatuh.

“Dupp!” stik baseball itu mengenai punggung Amber yang membuat dia setengah terjatuh, seakan mati rasa Amber segera bangun dan memukul wajah Xiumin berkali kali hingga membuatnya mencium tanah.

“Dupp!” satu pukulan mengenai Amber.

“Kau ingin mati juga?!” Amber berusaha memukul Kai tapi Kai terlalu cepat hingga Kai membuat Amber terjatuh ke tanah dan menahanya dengan kaki.

“Siapa?! siapa yang menelfonmu!” Amber kembali bangkit dengan memukul Kai, Amber menyerang balik Kai dengan memukulnya menggunakan stik baseball dengan satu tangan yang kuat.

“Kau ingin tahu?” satu pukulan mengenai Kai.

“Dia, dia adalah yeoja yang kulindungi dengan seluruh jiwaku” satu pukulan kembali mengenai Kai.

“Yeoja yang membuatku jatuh kedalam pelukan nya”

“Yeoja yang membuatku rela mati untuknya!”

“Krystal Jung Soojung, yeoja yang menjadi belahan jiwaku!!” Amber memukul Kai dengan sangat kuat hingga membuatnya setengah sadar.

Amber melempar stik baseball dan berlari kencang untuk menemui Krystal.

Amber terus berlari tanpa henti, kakinya terus melangkah cepat tanpa memperdulikan apapun yang terjadi di sekitarnya.

“Krystal” ucap Amber dengan nafas yang tidak beraturan.

“Bertahanlah”

Amber berlari cukup jauh hingga iya menemukan tempat yang iya tuju, tak butuh waktu lama Amber kembali melangkah memasuki sebuah gedung besar yang luas hingga membuat dia sedikit bingung.

“Dimana?” Amber mencari ke segala penjuru arah, hingga matanya menangkap sebuah ruangan yang berada di tengah-tengah koridor yang begitu panjang.

Clik” di bukalah gagang pintu itu dengan pelan.

Amber terdiam, berdiri kaku menatap seseorang yang kini terbaring tidak berdaya dengan infus di tangan kanan nya.

Amber tidak sanggup berkata apa-apa hingga iya hanya diam, selangkah demi selangkah Amber mendekatinya dengan hati yang begitu tersiksa begitu mencabik-cabik hatinya.

Bagaimana tidak, yeoja yang kini iya sayangi terbujur kaku tak berdaya, dengan jeli Amber menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala memastikan dia baik-baik saja tanpa kekurangan sedikitpun di tubuhnya

“Bodoh” Amber menatap yeoja yang kini tertidur pulas dengan wajah yang begitu pucat, di tambah lagi beberapa perban luka yang menghiasi tangan nya yang membuat Amber begitu prihatin kepadanya.

“Apa yang kau lakukan? mengapa kau menjadi seperti ini?” Amber terus menatap wajahnya tanpa berkedip sedikitpun.

“Kau sungguh membuatku menderita” senyum tipis Amber.

Tanpa ragu ataupun ketakutan di hatinya, Amber memegang lembut tangan Krystal dengan kedua tangan Amber yang menyatu melebur menjadi satu dengan sentuhan yang iya berikan kepada Krystal.

“Princess” bisik Amber.

“Jangan seperti ini” tatap Amber dengan menatap kedua mata Krystal yang tertutup rapat.

Amber menggengam erat tangan Krystal seakan takut kehilangan dirinya, Amber memberikan sentuhan yang begitu hangat kepada Krystal “Cup” sebuah kecupan yang Amber berikan di tangan Krystal.

24 day..

Matahari mulai terbit, menyirami kehangatan di bumi dengan cahaya yang begitu bersinar cerah. Cahaya matahari yang bersinar mulai memasuki celah-celah kecil ruangan yang dimana sosok sepasang yeoja dan namja tertidur pulas.

Krystal Pov

Apa ini? apa yang kurasakan, ku coba membuka mata ini tapi begitu sulit seakan akan ada sesuatu yang menahan mata ini untuk terbuka.

Begitu gelap, aku tidak bisa melihat apapun selain kegeleapan di hadapanku saat ini. Sangat kosong dan hampa “Dimana aku?”

“Aku tidak ingin disini” aku melihat segala penjuru arah tapi tetap, tetap kegelapan yang ku lihat.

Aku merasa putus asa, aku merasa tidak ada harapan apapun di dalam hidupku. Mengapa seperti ini?

“Princess” aku mencari suara yang begitu ku kenal.

“Princess” aku bangkit mencari suara yang masuk kedalam telingaku.

“Alish!” teriaku mencari Alish.

“Alish, Alish kau dimana! tolong aku Alish” teriaku mencari Alish yang tak dapat kulihat.

“Princess, apa kau tidak apa-apa? kau bisa mendengarku bukan?” aku tetap mencari Alish tapi tetap saja kegelapan yang dapat ku lihat.

“Saat ini aku merasa baik-baik saja Alish, Alish mengapa aku tidak bisa melihatmu?” tanyaku begitu  takut.

“Maafkan aku princess, maafkan aku. Semakin hari yang kau lalu kekuatan yang ada di dalam tubuhmu akan menjadi lemah hingga kau tidak akan bisa melihatku lagi princess” begitu kecewanya aku mendengar ucapan yang di katakan Alish.

“Iya Alish kau benar, semakin hari aku semakin tidak berdaya”

“Princess dengarkan aku”

“Kau akan baik-baik saja percayalah padaku, aku tahu kau bukanlah princess yang mudah menyerah dengan keadaan yang kau alami saat ini. Aku yakin kau akan menemukan obatnya princess” aku tersenyum simpul mendengar Alish.

“Ya, aku juga berharap begitu. Tapi aku merasa tidak yakin” senyumku.

“Kau jangan berkata seperti itu princess, aku yakin kau bisa melalui semuanya. Princess, apa kau tidak ingin bertemu dengan ayahmu lagi? apa kau tidak ingin bertemu dengan sahabat sahabatmu lagi atau apa kau tidak ingin terus bersama ibumu di bumi bahkan bersama Amber sekalipun” aku hanya diam mendengar apa yang di ucapkan Alish.

“Aku…”

“Kau bisa princess percayalah padaku, kau tahu bukan aku akan selalu membantumu” aku mengangguk pelan, aku tahu Alish tak akan meninggalkanku.

“Princess”

“Ya Alish”

“Aku akan terus ada untukmu” aku tersenyum mendengar Alish.

“Terima kasih Alish” aku merasa lebih baik bila Alish ada untuku.

“Alish?”

“Alish?”

“Alish kau dimana?”

“Alish apa kau bisa mendengarku?”

“Alish”

“Princess! princess bangunlah” aghh kepalaku terasa pusing.

“Princess, apa kau tidak apa-apa?” mataku menangkap sosok wajah yang.. yang kurindukan.

“Princess” perlahan aku bisa melihat jelas wajahnya, ohhh demi apapun aku merindukan wajahnya. Mata, hidung, teling, bibirnya bahkan aku bisa merasakan sentuhan nya yang begitu membuatku jauh jauh jauh lebih baik.

“Am..”

“Amber” aku berusaha tersenyum untuknya tapi aku terlalu lelah.

“Princess kau beristrhatlah, aku akan memanggil dokter untukmu”

Author Pov

“Bagaimana keadaan nya dok? apakah lukanya sangat parah?” tanya Amber dengan menatap serius sang dokter.

“Aku sudah mengecek luka Krystal, iya mengalami sedikit cedera di lengan kanan nya hingga membuat tulangnya terkilir akibat tabrakan yang iya derita, tapi itu tidak parah, jadi kau tidak perlu khawatir hanya saja saat ini dia butuh istrhat yang banyak agar tubuhnya kembali baik” senyum dokter.

Tetapi wajah Amber masih di menampakan wajah yang masih bingung.

“Aku ingin bertanya dok”

“Silahkan”

“Apakah Krystal memiliki penyakit lain? maksutku akhir akhir ini dia sering sekali pingsan dan wajahnya terlihat pucat” Dokter kembali mengecek kembali riwayat kesehatan Krystal.

“Hmm aku tidak melihat penyakit apapun di pasien, mungkin dia hanya kelelahan saja” Amber mengangguk pelan.

“Terima kasih dokter” bungkuk Amber meninggalkan ruangan.

“Hmmhh” Amber masih tidak terlihat puas dengan apa yang dikatakan dokter kepadanya.

“Haishh tapi mana mungkin dokter salah” Amber menggaruk garuk dahinya.

“Tapi..”

“Sudahlah aku yakin pasti Krystal hanya kelelahan” Amber menghela nafasnya dan kembali ke ruangan Krystal.

Amber membuka pelan pintu kamar “llama!” Amber tersenyum lebar saat iya melihat Krystal yang duduk di atas tempat tidur dengan makanan yang tidak habis.

“Ne Gongjunim” senyum Amber menghampiri Krystal.

“Aku tidak suka ini” tunjuk Krystal ke piring piring yang masih penuh dengan makanan nya.

“Tidak suka? bagaimana bisa, ini sangat enak princess” Amber duduk di depan Krystal dengan berpangku tangan di meja.

“Kalau begitu kau saja yang makan” Krystal melipat kedua tanganya.

“Apa kau yakin tidak  mau? ini sangat enak” Amber mulai mengambil sendok dan mencoba memakan nya.

“Ehhmmmm…..” Amber memberikan jempol kepada Krystal.

“Amasta!” ucap Amber.

“Hmhh” Krystal menutup mulutnya menahan tawa.

“Ada apa? mengapa kau tertawa? ini benar-benar enak” yakin Amber.

“Kalau begitu habiskan” pinta Krystal.

“Mengapa aku yang menghabiskan, bukankah yang sakit adalah kau” bingung Amber.

“Justru itu llama bodoh, aku tidak ingin kau sepertiku jadi makan lah yang banyak” Amber hanya menatap Krystal.

“Haish aku tau kau tidak makan seharian jadi makanlah, cheoncheoni mani deuseyo” senyum lebar Krystal yang menyuapkan bubur hangat kepada Amber.

“Aaaaaaaa”

“Buka mulutmu llama!” perintah Krystal dengan sesendok bubur di tanganya.

“Hap” di lahaplah sesuap bubur hangat oleh Amber dengan wajah yang datar.

“Aigoo lucu sekali llama” senyum Krystal.

Amber merebut sendok yang ada di tangan Krystal “Ya!”

Amber mengambil penuh bubur hangat dengan sedikit meniupnya “Ayo buka mulutmu” pinta Amber.

“Tidak mau” Krystal menggelengkan kepalanya.

“Haishh ayo cepat makan, aaaaaa” suap Amber.

“Aku tidak mau llama!” tolak Krystal dengan lengan nya “Aghhh”

“Princesss, apa kau tidak apa-apa?”

“Lenganku”

“Kau jangan terlalu banyak gerak, dokter mengatakan lenganmu sedikit terkilir”

“Mwo?? bagaimana bisa?”

“Kalau kau bertanya kepadaku, aku harus bertanya dengan siapa?” bingung Amber.

“Princess”

“Ne” jawab singkat Krystal.

Amber menarik nafasnya “Apa kau baik-baik saja?” tatap Amber.

“Aku merasa baik-baik saja”

“Tapi bila kau baik-baik saja mengapa kau bisa terbaring di rumah sakit dengan tangan yang terkilir? apa itu yang di bilang baik-baik saja?” Krystal hanya diam tanpa menatap mata Amber.

“Princess”

“Princess lihat aku” Amber memegang dagu Krystal agar iya melihat ke arah Amber.

“Jujurlah kepadaku”

“Aku sudah jujur kepadamu llama, aku tidak apa-apa aku baik-baik saja” jawab Krystal.

“Keojitmal hajimara!”

Amber kembali menarik nafasnya “Jujurlah princess” Krystal menatap kedua mata Amber.

“Apa yang kau sembunyikan dariku?”

“Apa yang kau sembunyikan dariku princess??” Krystal tidak sanggup menatap lebih lama kedua mata Amber.

“Aniyo, opsoyo” Krystal membuang wajahnya dari Amber.

“Pernahkah selama ini aku bertanya kepadamu? pernahkah selama ini aku mengusik kehidupan pribadimu?” tanya Amber tanpa di balas Krystal.

Amber memberikan senyum simpul di wajahnya “Aku hanya ingin tahu saja, aku hanya ingin tahu apa yang kau rasakan saat ini. Apakah itu sebuah perasaan yang baik ataukah perasaan yang begitu buruk yang sedang kau hadapai saat ini?” Krystal tetap membuang wajahnya.

“Aku merasakan apa yang kau rasakan saat ini princess dan kau tahu itu apa? aku merasakan kesedihan di hatiku, aku merasakan kegelisahan di hari hariku” tatap Amber.

“Princess”

“Apakah benar perasaan yang saat ini aku rasakan sama seperti yang kau rasakan? apakah ini benar? atau hanya kekeliruan?”

Krek” terdengar suara pintu yang terbuka.

“Saatnya untuk meminum obat” senyum seorang suster dengan membawa beberapa obat untuk Krystal.

“Terima kasih” senyum Krystal yang masih di perhatikan Amber.

“Dring driiingg” Krystal segera mengambil ponselnya.

“Yeoboseyo

“Ohh oppa, aku berada di rumah sakit”

Aku harap kau baik-baik saja princess” senyum Amber.

“Aku pergi” pamit Amber.

Amber pov

Aku tidak mampu bekata kata lagi, aku tidak mampu lagi mengutarakan perasaanku saat ini. Tanpa mengatakan apapun dunia juga tahu bahwa aku begitu khawatir kepada Krystal, aku bisa melihat tatapan matanya yang begitu lelah dengan semuanya.

Tapi..

Apakah kekhawatiranku ini berlebihan? sebelumnya aku tidak pernah segila ini, aku tidak pernah pusing seperti ini atau bahkan aku tidak pernah merasakan rasa yang begitu menggebu-gebu saat di dekat seseorang.

“Huffhh” kini aku menatap wajahku di cermin dengan wajah yang ku siram dengan air dingin agar lelah yang kurasakan dapat menghilang.

“Amber!” suaranya yang begitu peka di telingaku membuat kepala ini menoleh ke arahnya.

“Amber, apa kau tidak apa-apa? ya Tuhan bajumu dan wajahmu. Apa lagi yang kau lakukan hah?!”

“Kau membawa pesananku?” tanyak kepada yeoja yang ku anggap sebagai malaikat penolongku.

“Ini” ku ambil sweater abu-abu yang ku pesan kepadanya.

“Komawoyo” senyumku kepada yeoja yang masih cemburut.

“Jelaskan kepadaku apa yang kau lakukan?”

Aku menarik nafas panjang dan menatapnya “Aku berantem dengan Kai”

“Sudahku tebak! apa kau tidak lelah di pukul oleh mereka? apa kau tidak ingin melawan mereka?! apa kau tidak…” aku segera membungkan mulutnya dengan jariku.

“Aku memukul mereka semua Suzy”

“Mwo?!!!” aku menutup kedua telingaku karena suarana yang begitu kencang.

“Apa kau becanda??!!” matanya membukat dengan besar lucu sekali dia.

“Ne” anggukku yang membuatnya syok.

“How can?!! apakah ada sesuatu yang benar-benar melukaimu?” aku tersenyum mendengarnya.

“Sudahlah tidak usah kau pikirkan, ayo kita ke kelas” ajaku kepadanya.

“Tapi bagaimana kalau mereka menyerangmu lagi Am? atau bahkan mereka menyerangmu dengan lebih parah!”

“Kali ini tidak akan kubiarkan Suzy, percayalah padaku” kuberikan senyumku padanya agar iya berhenti mengakhawatirkanku.

“Baiklah, ayo kita ke kelas”

17.10

“Hari ini aku tidak melihat Kai dan teman-temanya”

“Biarkan saja”

“Bagaimana kalau kau pulang denganku Am?” aku tersenyum mendengarnya.

“Berhentilah mengkhawatirkanku Suzy, Amber yang kau kenal saat ini bukanlah Amber yang dulu. Percayalah”

“Baiklah, kalau begitu aku pergi bye Amber” ku lambaikan tangan ini untuk sahabatku.

“Mengapa dingin sekali” ku masukan kedua tanganku  kedalam saku celanaku, kakiku melangkah menuju halte bus yang tidak jauh dari sekolahku.

Sambil menunggu bus datang, aku mengambil ponselku yang berada di tas ransel hitamku “Mengapa dia tidak memberikan kabar kepadaku?? apa dia marah karena masalah tadi pagi?” hufh aku menghela nafas ini dan untung saja aku tidak lama berdiri karena bus telah datang.

Sebelum aku kembali ke rumah sakit, aku mampir di kedai buah untuk membeli buah kesukaan Krystal yaitu mangga, pasti dia akan senang bila aku membawakn untuknya.

Waktu menunjukan pukul 7 malam “Mengapa rasanya begitu dingin” aku menggosok gosok kedua tanganku dna tiba-tiba aghh aku mengingat kejadian di saat Krystal menghangatkan tanganku di saku coatnya, mengingat kejadian itu membuat pipiku menjadi sedikit lebih hangat hehe.

Aku kembali melanjutkan jalanku dan sudah masuk ke dalam rumah sakit tapi tunggu, ada sesuatu yang menarik perhatianku yaitu sebuah mobil sport putih yang selalu parkir di sekolahku.

“Mungkinkah? ah tidak mungkin” aku kembali berjalan menuju kamar Krystal tapi ntah kenapa perasaanku kali ini merasa tidak baik ah tapi ini kan hanya perasaan saja mungkin aku hanya lelah saja.

Kini aku berada di tepat pintu kamar Krystal “Apakah aku sudah rapih? haish berlebihan sekali aku!” aku menarik nafas ini dalam dalam dan..

Krek” ku buka pintu ini dan…

“Princess aku membawakan…”

Apa?

Apa yang kulihat saat ini?

Apakah ini nyata?

Ini tidak mungkin, bagaimana bisa?!! bagaimana bisa??

Ku pandangi sekeliling ruangan ini, kuperhatikan satu persatu orang orang ini yang tidak ku kenal sama sekali.

Tapi…

Tapi ada satu wajah yang membuatku bingung.

Satu wajah yang selalu kubenci hingga akhir hayatku.

Satu wajah yang membuat hidupku menderita.

Dan kini dia ada disini..

Bersama Krystal.

Bersama princessku.

Bersamaku di dalam satu ruangan yang ingin sekali ku hancurkan rahang wajahnya hingga aku merasa puas memukulnya.

Dan dia…

“Kai?”

“Amber??”

Advertisements

14 thoughts on “Beautiful Stranger 11

  1. tania7 says:

    woooh bakal seru ni selanjutnya thor, makasih udah bisa update terus thor!!! engkau yg terbaik!
    nangis ni baca yg ini thor, kasihan amber sama krystal nya:'( ditunggu ya thor next chap

  2. Hais…astaga.kapan jumpanya sih sica n krystal.ahhh…gw puyeng….masih ttep mendebarkan nih ff.asli.gw tepok tangan saat amber ngebalas si kai kampret..hua…kryber..lo bdua sama munafiknya..tinggal blang perasaan lo aja apa ssahnya sih???oh my guad…
    Ok deh mas..cie mas.mas….lo lama bener updet….kekeke….ok.ok.keep spirit..n see you again thor…

  3. Omo siapakah namja itu yg bs membantu krystal sembuh apa itu amber?? Semoga kryber tetap bersatu kasian nanti amber terluka ..udah kebongkar jingsis saudara tp beda ayah?? Ada hubungan apa kai dgn krystal jgn cemburu am

  4. putri says:

    wow amber akhir’y mlawan kai.pukul aja dia am smpe ba2k belur.hehe
    tambah seru,dlu mmperebutkan suzy dn skrang mmprebutkan krystal.
    Bwt kryber brsatu thor.
    Amber sdah tw bhwa jessica +krystal brsaudra tpi knpa gk ju2r sma krys.aaiiisshhh.
    Smoga krystal baik2 sja,
    Next chap d tunggu thor..!
    Semangat terus ya..!

  5. LOLY says:

    Huuaaa gregetan ey. Sudah mulai terkuak semuanya dan mulai bertemu . Happy Ending plis :)) ini salah satu ff yang gue tunggu hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s