Beautiful Stranger 5

Ku berajalan,berjalan dan terus berjalan akupun tidak tahu kemanakah langkah kakiku ini akan membawaku pergi, iya aku berjalan tanpa arah dan tujuan aku terus berjalan menulusuri malam bemaksut untuk melupakan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu mengapa aku harus menghindari nya. Mungkin dengan cara seperti ini aku bisa lebih sedikit tenang, sendiri tanpa di ganggu oleh siapapun. Lelah, aku lelah karena ku rasa aku sudah berjalan cukup jauh.

Ku senderkan tubuhku yang terasa dingin ini di bangku kayu yang terlihat tua, ku tarik sedikit nafas ini untuk menenangkan pikiranku serta mengembalikan lagi energi ku yang terkuras karena kakiku yang tidak bisa berhenti melangkah.

“Sial” ku kutarik sudut bibirku membuatku tersenyum kesal, ku tundukan kepalaku dan ku genggam bangku tua ini dengan kedua tanganku untuk menahan sesuatu di dadaku yang terasa ingin meledak. “Mengapa? mengapa aku seperti ini?” ku tarik kembali nafas ini.

Mengapa aku seperti ini? aku sudah berjalan pergi menjauhinya agar aku dapat melupakanya tapi aku salah, sejauh apapun aku melangkah sejauh apapun ku berlaro tetap saja aku tidak bisa melupakan bayangan dia di pikiranku! bayangan yang membuatku menjadi kesal dan membuatku merasa kecewa merasakan sesak di dada.

Kecewa? untuk apa kecewa? dan juga untuk apa aku harus seperti ini? seperti pencuri yang berlari untuk menyembunyikan dirinya agar tidak di ketahui orang lain. Berlari menghindarinya agar lupa akan semuanya. Ku angkat kepala ini dan menatap langit malam yang bertabur bintang “Mengapa seperti ini? apa yang salah denganku? apa aku melakukan kesalahan yang sangat besar sehingga aku harus mengalami hal seperti ini?” kembali kutundukan kepala ini dengan menahan rasa kesal dan sedih.

Perasaan Krystal campur aduk antara kesal, marah, kecewa, pasrah dan benci akan dirinya sendiri.

“Aku ingin pulang” suaraku mulai bergetar. “Aku ingin pulang, aku ingin bersama ayah aku ingin bersama sahabat sahabatku. Aku tidak ingin disini aku ingin pulang, aku tidak ingin disini sendiri” Krystal mulai meneteskan airmatanya setetes demi setetes, wajah cantiknya kini di bahasahi oleh airmata kekecewaanya.

“Apakah hanya ini yang bisa kulakukan? hanya bisa menangis hanya bisa diam dan tidak tahu harus berbuat apa! aku benci diriku, aku benci diriku sendiri!” airmata Krystal tidak dapat di bendung lagi, nafasnya mulai tidak beraturan karena menangis terisak-isak.

“Princess Krystal” Krystal mengedipkan matanya menyadari suara yang tidak asing di telinganya.

“Alish??” Alish yang berdiri tepat di depan Krystal memberikan senyuman kepada sang putri yang sedang terlihat sedih, Alish merasa sedih karena ini untuk pertama kalinya iya melihat sang putri meneteskan airmatanya.

“Princess” Alish segera memeluk sang putri dengan sangat erat, Krystal terus menangis di pelukan Alish mengeluarkan semua keluh kesahnya di pelukan sang peramal kerajaan.

“Tenanglah princess aku berada di sampingmu saat ini” Alish membelai rambut hitam lembut milik Krystal.

“Alish aku ingin pulang” seduh Krystal.

“Aku, aku tidak ingin disini bawa aku bersamamu” Alish melepaskan pelukan, tangan Alish menghapus airmata yang membasahi pipi Krystal.

“Princess, kau tidak boleh sedih aku selalu ada untukmu aku selalu mengawasimu dan aku juga selalu menjagamu” ucap Alish.

“Aku tidak ingin disini aku ingin pulang aku lelah akan semuanya, aku ingin bersam ayah” tatap Krystal.

“Maafkan aku princess tapi kau tidak akan bisa pulang sebelum kau menemukan obat penawarmu” wajah Krystal kembali sedih.

“Tapi” Alish memegang kedua tangan Krystal.

“Tapi kau tenang saja, aku selalu menjagamu dan mengawasimu princess aku akan selalu datang bila kau benar-benar membutuhkanku princess” senyum Alish.

“Princess lihat aku” Alish memegang lembut kedua pipi Krystal yang terasa dingin.

“Kau tahu, kau tidak seperti princess yang ku kenal kau seperti orang lain, mengapa kau seperti ini? yang aku tahu Kau adalah wanita yang berani, kau adalah wanita yang tidak mudah putus asa, kau adalah wanita yang tegar , cerdas dan juga ceria. Aku sangat tahu dirimu princess, aku tahu benar siapa dirimu” Krystal menatap Alish.

“Aku percaya padamu princess, aku percaya kau akan menemukan obat penawar itu dan kau juga sudah berjanji bukan bahwa kau akan kembali untuk bertemu ayahmu apa kau lupa?” Krystal menggelengkan kepalanya.

“Princess kau harus berusaha dan terus berusaha kita tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti tidak ada yang tahu dan tidak ada yang bisa menebak, jalani saja dan biarkan waktu yang menjawab semuanya yang penting saat ini kau harus berusaha” senyum Alish dan Krystal mengangguk, Alish kembali memeluk Krystal.

“Terima kasih” ucap Krystal.

“Terima kasih sudah memberikanku semangat, aku tidak tahu mengapa dengan mudah diriku mengeluarkan airmata”

“Jadilah princess Krystal yang berani dan pantang menyerah aku tidak suka melihat princess Krystal yang cengeng seperti ini” senyum Alish yang membuat Krystal juga tersenyum.

“Aku hanya tidak ingin sendiri disini, aku takut sendiri aku tidak tahu harus mengadu dengan siapa” tunduk Krystal.

“Bukankah saat ini princess sedang tinggal dengan seseorang?” tatap Alish dengan senyum nakal di wajahnya.

“Apa?” tatap Krystal.

“Princess”

“Aku tahu kau menangis bukan hanya kau merasa sendiri dan putus asa” Krystal dan Alish saling bertatapan.

“Ada sesuatu yang lain bukan?” Krystal mengalihkan pandanganya.

“Ti-tidak ada” Krystal menggelengkan kepalanya.

“Kau yakin?” Krystal hanya diam.

“Princess, kau sekarang sudah cukup dewasa dan sudah cukup tahu mengenai perasaanmu” Krystal menatap Alish bingung.

“Sudahlah lupakan, yang penting saat ini kau tidak boleh lagi merasa sendiri dan putus asa, kau harus berusaha dan jalani semuanya hadapi semua masalah dengan tenang aku tahu kau pasti bisa” senyum Alish.

“Alish”

“Ya princess Krystal”

“Kau akan selalu ada untuku dan menjagaku kan?”

“Tentu saja princess aku selalu mengawasimu dari atas, dan lagipula sudah ada yang menjagamu disini jadi aku tidak terlalu khawatir” senyum Alish.

Krystal dan Alish terus berbincang satu sama lain hingga membuat Krystal tertidur pulas di bahu Alish “Princess, aku tidak ingin melihatmu seperti ini lagi. Aku ingin sekali berada disampingmu tapi apa daya aku tidak bisa melakukanya, aku yakin kau pasti bisa melewati semua ini. Aku yakin semua akan indah pada waktunya”

NEXT DAY

Matahari mulai terbit, sinar matahari mulai masuk ke celah celah ventilasi udara dan menembus kaca rumah Amber yang sangat sederhana. Hangatnya pancaran sinar matahari pagi mulai menyinari wajah Amber yang sedang tertidur pulas dengan masih menggunakan seragam sekolah lengkap miliknya. ”

Errghh” Amber mulai merasa resah karena sinar matahari sepertinya berhasil membuat tidur nya terganggu, Amber masih memejamkan matanya dengan kaki yang teruka lebar serta rambut yang berantakan.

“Aghh” Amber terlihat kesal karena tidurnya terbangun, Amber mulai mengucek kedua matanya dan sangat berusaha keras bangun dari sofa tua miliknya.

“Ehmm jam berapa ini?” Amber mengambil ponsel yang tidak jauh dari tanganya.

“05.30” Amber masih setengah sadar dan kembali melanjutkan tidurnya.

Tapi tunggu dulu…

“Princess!!” Amber tersentak bangun dari tidurnya karena baru saja otaknya jalan mengingat Krystal, Amber bergegas bangun dan membuka pelan kamar tidurnya. Amber memandang kamarnya yang masih kosong dan rapih.

“Haishhh kemana anak itu!” Amber berlari keluar dengan memakai sendal seadanya dan masih memakai seragam lengkap yang sudah terlihat lecak dan sedikit kotor, Amber menelusuri jalan setiap rumahnya untuk mencari Krystal di pagi hari. Tidak sedikitpun jalan yang iya tak lewati, Amber menelusuri semua ruas jalan sekitar rumahnya.

“Agghhhhh!” Amber mengacak rambutnya karena kesal.

“Kemana dia??” mata Amber masih mengawasi setiap jalan.

“Apa mungkin dia tersesat?”

“Atau mungkin dia di culik atau??” “Haishh tidak mungkin! siapa yang berani melawanya” Amber kembali berjalan menelusuri jalan demi jalan hingga iya melihat jam yang sudah menunjukan pukul 7, Amber terlihat bingung dengan menarik nafasnya.

“Aku yakin dia pasti saat in baik-baik saja” Amber menganggukan kepalanya, dan secepat mungkin Amber berlari ke rumahnya untuk mengambil keperluan sekolahnya.

Sebelum berangkat sekolah Amber menyiapkan susu hangat dan sedikit catatan kecil di meja makan miliknya “Baiklah” Amber menarik erat tas nya kemudian berlari ke sekolahnya.

20 menit…

“Gerrk” suara pintu terbuka.

“Maafkan aku, aku terlambat” Amber membungkukan badanya karena lelah.

“Masuklah” Amber mengangguk.

“Hufh” Amber mulai mengeluarkan buku serta perlatan lainya.

6 jam berlalu bell berdering….

“Baiklah anak-anak selamat siang” kata terakhir dari guru bahasa inggris. Serta guru pergi Amber langsung membaringkan kepalanya di meja dengan buku yang menjadi alas kepalanya.

“Hei Dino, mengapa kau hari ini terlihat sangat sangat berantakan?” ucap Onew.

“Bukankah setiap hari dia selalu berantakan” ucap Minho.

“Tapi hari ini dia benar-benar terlihat sangat kacau, Hei llama apa kau tidak mandi hari ini? wajahmu terlihat tidak segar” ucap Henry.

Amber bangun dari tidurnya dan menatap keempat temanya yang membuat mereka terkejut “Jika kalian ingin menomentariku, aku akan membuat kotak saran dan komentar untuk kalian semua jadi kalian tinggal menulis saja disitu tidak perlu meganggu tidurku” Amber berjalan keluar kelas.

“Dia benar-benar tidak berubah, sudah biarkan saja dia bagaimana kalau kita ke kantin” ajak Henry kepada teman temanya.

Sedangkan Amber terlihat seperti zombie yang sedang berkeliaran di sekitar sekolah dengan wajah yang yang terlihat lesu serta baju yang lecak  dan tentu saja tidak jarang membuat perhatian banyak orang di sekolah ini.

“Ohhh well well well, apa yang kita temukan hari ini guys!” langkah Amber terhenti saat iya melihat Kai dan para ganknya mulai mengganggu jalanya.

“Oh Josephine kau benar-benar tidak pantas di sekolah ini, kau seperti sampah” senyum Kai.

“Mengapa orang seperti dia masih saja berkeliaran di sekitar sekolah ini? benar-benar membuat kotor saja!” ucap Tao yang mendorong badan Amber.

“Wow wow wow tidak perlu terburu-buru” Kai memegang pundak Tao.

“Aku sudah lama tidak bermain main denganmu Josephine” Kai mendekati Amber dan seperti biasa Amber hanya diam menunduk.

“Aku sudah lama tidak bermain-main, apa yang akan kita lakukan kali ini?” ucap Sehun yang mulai memberi pemanasan kepada jari-jarinya, Amber hanya menundukan kepalanya.

“Biarkan aku pergi” ucap Amber dengan menunduk.

Kai melipat kedua tanganya menatap Amber yang menyedihkan “Kau ingin pergi? baiklah” Kai memberikan jalan kepada Amber “Pergilah” ucap Kai, Amber menarik nafasnya dan mulai melangkahkan kakinya, Kai menyeringai.

“Bruuk!!!”

“Hahahahaha!!” Kai, Tao dan Sehun tertawa melihat Amber yang jatuh akibat kaki Sehun yang menjegal kakinya.

“Dasar bodoh! kau kira dengan mudah kau pergi dari kami hah?!” ucap Kai yang menaruh kakinya di atas pundak Amber yang membuat baju Amber semakin kotor, semua murid menatap perbuatan Kai yang di lakukan pada Amber tapi apa daya mereka hanya bisa melihat Amber yang pipinya bersentuhan dengan lantai.

“Kai!!!” terdengar suara seseorang yang memecahkan waktu kesenangan Kai, Kai melihat ke arah sumber suara dan para murid murid seperti membuka jalan untuk seseorang.

“Hmm” Kai menyeringai.

“Sepertinya malaikat penolongmu sudah datang” ucap Kai kepada Amber dengan nada yang pelan.

“Hentikan perbuatanmu! lepaskan Amber atau kau akan ku adaukan kepada kepala sekolah!” Suzy terliha emosi.

Kai menarik sudut bibirnya “Aku heran kepadamu, mengapa kau selalu saja membela sampah ini?”

“Jaga ucapanmu Kim Jong in!!” Suzy melangkahkan kakinya mendekati Kai yang satu kakinya masih menapak pundak Amber.

“Singkirkan kakimu” Suzy menatap tajam Kai.

“Kalau aku tidak mau?” Kai menatap Suzy, Suzy merendahkan badanya.

“Amber kau tidak apa-apa?”

“Pergilah, aku tidak apa-apa” Kai tersenyum dengan wajah yang kesal.

“Maafkan aku” ucap Suzy dengan nada permohonan maaf.

“Cukup” Kai menarik kakinya dari punggung Amber dan menatap Suzy yang langsung membantu Amber untuk berdiri serta merapikan bajunya.

“Aku rasa aku benar-benar gila” Kai mengepal tanganya.

“Suzy” ucap Kai.

“Suzy” Kai sedikit menaikan nada bicaranya tapi Suzy masih sibuk dengan Amber.

“Ya Bae Suzy!!” teriak Kai marah.

“Mengapa? mengapa kau seperti ini? mengapa kau lebih memilih pengemis itu dari pada aku hah!” Suzy hanya diam.

“Kau pergilah” ucap pelan Amber.

“Tidak” Suzy menggelengkan kepalanya.

“Haishh!” tidak tahan Kai di campakan dengan Suzy, Kai mebalikan badan Amber dan langsung melayangkan pukulan keras tepat di wajahnya.

“Kai!!” Amber terjatuh dengan memegang wajahnya.

“Kai hentikan kau bisa terkena masalah” halang Tao.

“Sebaiknya kita pergi jam istirhat akan berakhir” Sehun mengajak kedua temanya pergi meninggalkan Amber dan Suzy.

“Aku tidak apa-apa” senyum Amber dengan bibir yang berdarah.

Jam istirhat telah berahir tapi Suzy dan Amber memutuskan untuk melewati pelejaran mereka, Suzy mengobati bibir Amber yang terluka di taman belakang sekolah.

“Aku tidak apa-apa” Amber memegang tangan Suzy, dan mengambil gumpalan es batu untuk bibirnya.

“Kau masuklah, aku tidak ingin kau melewati pelajaran matematika”

“Tidak, aku ingin bersamamu” tatap Suzy.

“Mengapa kau keras kepala sekali? kau sangat bodoh di bidang matematika” ucap Amber, Suzy hanya menatap Amber dengan mata yang berkaca-kaca.

“Suzy” Suzy meneteskan airmatanya.

“Bodoh” ucap Suzy dengan airmata yang membasahi pipinya.

“Kau benar-benar bodoh Amber Liu” Amber hanya tersenyum.

“Maafkan Amber Liu yang bodoh ini” Amber mengusap airmata Suzy dan seketika Suzy memeluk Amber dengan erat, Amber hanya diam membiarkan Suzy menangis di pelukanya.

“Aku tidak ingin melihat kau seperti ini terus, ini benar-benar menyiksaku Am” Amber mulai membelai rambut Suzy.

“Aku tidak apa-apa Suzy, percayalah padaku” Amber sangat tahu bahwa Suzy sangat khawatir pada dirinya.

“Terima kasih Suzy, terima kasih karena kau sudah peduli padaku” pikir Amber.

Matahari mulai terbenam, Amber berlari sekuat tenaga menuju rumahnya berharap sesuatu yang iya tunggu telah datang dan menyambutnya dengan senyum yang yang kerap kali membuatnya tidak sadarkan diri.

“Huffhh huffhh hufhhh” Amber menarik dalam nafasnya.

“Kreek” Amber membuka pintu rumahnya.

Rumah Amber masih gelap seperti tidak berpenghuni, Amber mulai menghidupka lampu rumahnya. Mata Amber masih menatap sekeliling, Amber merasakan kosong, sunyi dan hampa.

Amber berjalan ke arah dapur, Langkah Amber terhenti saat iya masih menemukan segelas susu putih yang tidak tersentuh sama sekali. Amber terlihat bingung, Amber memejamkan matanya untuk sejenak.

“Tidak bisa” Amber membuka mata lalu melepaskan tasnya.

Amber mengmbil sweater dan bergegas keluar dari rumahnya, kakinya kembali melangkah dengan cepat dan cekatan. Amber berlari ke taman dekat rumahnya dan sangat teliti matanya menelusuri tiap sudut taman tapi sayang iya tidak menemukanya. Amber kembali berlari menerjang dingin nya malam.

Amber menghentikan langkahnya di tengah tengah keramaian, Amber memutar mutar badanya mencari sosok yang iya cari tapi tetap iya tidak menemukanya.

“Aghh!” Amber melempar sweater yang iya telah bawa, Amber terlihat kesal dan kecewa, Amber hanya dia tidak berkata apa-apa.

Amber terus dan terus mencari Krystal hingga jam menunjukan pukul 9, Amber memutuskan untuk pulang mengganti bajunya dan berangkat kerja dengan wajah yang memar dan luka yang sepenuhnya belum kering.

“Amber!!” Amber tersentak kaget.

“Kau benar-benar tulis atau apa?! aku memanggilmu lebih dari 100 kali! dan haishh sampai kapan kau akan mengelap gelas itu hah!” bentak Key yang menyadari temanya seperti kehilngan jiwa di raganya.

Key menatap Amber “Ada apa dengan dirimu? lihat, wajahmu memar dan kau banyak melamun ada apa dengan dirimu? apa kau berhutang lagi dengan lintah darat?” tanya Key menatap wajah Amber yang tanpa ekspresi.

“Kau pasti berhutang lagi bukan? haishh apa kau ingin mati? hutangamu dengan Daesung saja belum selsai sekarang kau mau membuat onar lagi? haishh kau menjual ginjalmu saja itu tidak akan cukup melunasi hutang! aku benar-benar heran padamu” Amber mengabaikan perkataan Key dan pergi meninggalkanya.

“Ya Amber! aku sedang bicara padamu!” Amber terus berjalan mengbaikan Key yang tengah berbicara padanya.

Amber membuka pintu Exit, menaiki anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit. Amber terus menaiki anak tangga hingga menemukan pintu Exit di anak tangga yang iya pijak.

“Krek” di bukalah pintu besar itu oleh Amber. Sunyi dan sepi tidak ada satu orangpun yang berada di atap paling atas gedung ini, Amber berjalan ke tepi gedung memandangi lampu lampu yang indah pada malam hari. Amber memejamkan matanya mencoba menikmati heningnya malam di bawah langit gelap yang di taburi bintang.

“Aku tidak tahu ada tempat seindah ini” mata Amber langsung terbuka ketika iya mendengar suara yang berada di belakangnya.

“K-k-kau??” kejut Amber dengan mata yang terbuka lebar.

“Waah benar-benar indah” Amber masih menatap heran dengan yeoja yang kini berada di sampingnya.

“Apa kau merahasiakan tempat ini?” tatap tajam yeoja, Amber hanya menggelengkan kepalanya.

“Hmm disini sangat tenang dan damai” yeoja itu menutup ke dua matanya.

“Mengapa kau bisa ada disini?” tanya Amber.

“Aku hanya iseng berjalan-jalan dan secara tiba-tiba aku menumkan tempat ini dan…” yeoja itu membuka matanya dan melihat Amber yang sedikit memundurkan langkahnya karena jarak yang dekat.

“Dan aku menyukainya, aku rasa ini akan menjadi tempat favotirku” senyum yeoja itu.

“Tapi, tapi disini tidak aman dan tempat ini terlarang untuk tamu”

“Ehmm benarkah?” Amber menganggukan kepalanya.

“Kalau begitu kau harus menamiku disini”

“Apa?” Amber menaikan alisnya.

“Iya kau harus menemaiku, aku adalah tamu bukan? dan kau adalah pelayan disini dan lagi pula aku adalah exctve member disini” Amber terlihat bingung.

“Tapi aku harus berkerja”

“Aku akan bilang pada managermu”

“Tapi…”

“Tidak ada yang boleh menolak permintaan Jessica Jung” Jessica menatap death glare Amber.

“Ehhhmm y-yaa” jawab Amber terbata-bata.

“Good” jawab Jessica yang tidak memandang wajah Amber.

Amber terlihat canggung saat bersama Jessica “Mengapa kau bisa ada disini? bukankah seharusnya kau berkerja?” tanya Jessica memecah keheningan mereka berdua.

“Ehmm, ehmm itu karena aku sudah lama tidak ke atap aku sangat merindukan tempat ini, setidaknya tempat ini bisa melupakan masalahku sesaat” ucap Amber yang membuat Jessica menoleh ke arahnya.

“Masalah? apa kau saat ini sedang dapat masalah?” Jessica menatap wajah Amber.

“Ehmm” Amber tersenyum kaku.

Jessica menatap Amber dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Amber yang membuat Amber kaget tapi tidak membuat Amber menjauhinya “Wajahmu? ada apa dengan wajahmu?” tunjuk Jessica ke wajah Amber.

“Apakah itu masalahnya?” Jessica membalikan badanya ke posisi normal.

“Ehmm tidak, ini tidak apa-apa aku sudah terbiasa” Amber memegang wajahnya.

“Waaah sepertinya hidupmu benar-benar bermasalah ckckc” Jessica menggelengkan kepalanya.

“Ehmm mengapa aku baru tahu bahwa kau adalah salah satu member exctve kami” Amber menggarukan kepalanya.

“Itu karena kau terlalu sibuk melayani para tamu yang menggodamu” senyum Jessica.

“Apa?”

“Tidak ada”

Jessica dan Amber kembali hening “Kau benar, tempat ini bisa membuat masalah kita menghilang” Amber menatap Jessica.

“Ehmm apa kau sedang memiliki masalah?” Jessica menoleh ke arah Amber.

“Hmmm ada tapi itu masalah biasa” senyum Jessica kepada Amber, Jessica kembali menatap pemadangan yang berada di depanya sedangkan Amber masih menatap wajah Jessica dengan rambut yang tergerai.

“Sampai kapan kau akan menatapku Amber Liu?” Amber langsung memutar kepalanya.

“Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?”

“Tidak ada” senyum canggung Amber.

“Hanya saja….” Amber menatap Jessica.

“Hanya saja kau seperti mirip seseorang”

“Seseorang?” tanya kembali Jessica yang di balas dengan anggukan kepala Amber.

“Apakah dia pacarmu?” Amber tersenyum mendengarnya.

“Tentu saja bukan”

“Lalu?” tanya Jessica.

“Ehmm dia hanya orang asing” Jessica masih menatap Amber dengan bingung.

“Orang asing yang secara tiba-tiba datang di kehidupanku. Mengangguku, memerintahku dengan semaunya, pemarah, menjengkelkan dan lainya” Amber tidak menatap Jessica.

“Tapi lucunya adalah mengapa aku meneruti semua kata katanya? mengapa aku selalu khwatir kepadanya? mengapa aku selalu menghabiskan waktuku hanya untuk mencarinya dan meneruti semua perintahnya?  padahal dia hanya orang asing bagiku dia bukan siapa siapa untuku, aku bisa saja pergi meninggalkanya tapi…” Amber menghela nafas.

“Aku tidak tahu, perasaan ini mengatakan bahwa aku harus menjaga dan menolongnya. Aku merasakan kesedihan di matanya, aku juga merasakan kesepian di setiap tatapanya, aku mersakan kelelahan bila iya sedang melamun” senyum Amber.

“Tapi..”

“Tapi aku tidak tahu dia dimana sekarang? aku tidak tahu apa yang iya lakukan sekarang? aku tidak tahu mengapa iya meninggalkanku seperti orang bodoh” Amber menghela nafas.

“Haruskah aku merasa senang karena iya telah pergi dari hidupku? atau aku harus merasa sedih karena iya pergi meninggalkanku?” Jessica menatap Amber.

“Bagaimana perasaanmu saat ini?”

“Aku tidak tahu” Amber menggelengkan kepalanya.

“Jika dia ingin pergi meninggalkanku setidaknya iya mengucapkan salam perpisahan denganku” senyum Amber kepada Jessica.

NEXT DAY

Seperti hari hari sebelumnya setiap pagi Amber selalu memeriksa kamarnya dan setiap pagi Amber selalu membuat segelas susu hangat serta selembar kertas di meja makan. Berharap iya akan kembali

At school

“Ambro ada apa dengan dirimu? akhir akhir ini kau terlihat tidak bersemangat dan mengapa kau terlihat tidak bernyawa?” tanya Henry.

“Aku tidak apa-apa”

“Apa kau yakin? apa jangan jangan kau sakit?” tanya Onew.

“Apa jangan jangan kau sedang putus cinta!” ucap Minho.

Amber menatap Minho “Jadi benar! waaah!!”

“Tentu saja tidak!” ucap Amber yang pergi meninggalkan teman temanya dan pergi menyendiri.

Amber melihat sebuah tangan yang memberikan sandwich untuknya “Makan ini, aku sengaja membuatnya untukmu makanlah” Amber mengambil sandwich yang di berikan oleh Suzy.

“Amber”

“Hmm”

“Apa kau sedang ada masalah? kau terlihat murung” Amber menggelengkan kepalanya.

“Lalu mengapa kau seperti ini? kau benar-benar aneh” Amber hanya tersenyum.

“Sandwich buatanmu sangat enak, terima kasih”

“Habiskanlah! awas saja bila tidak habis” Amber mengangguk dengan mengunyah sandwich buatan Suzy.

“Oh ia Am, kemarin aku melihat saudaramu sedang menjadi pelayan di sebuah restoran”

“Apa?!!!” Amber benar-benar terkejut.

“Iya saudaramu yang berasal dari Busan kemarin aku ingin membelikan nasi untuk anak panti asuhan dan secara tiba-tiba aku melihat saudaramu sedang menjadi pelayan disana”

“Dimana?! katakan kepadaku dimana?”

“Dongdaemun” dengan terburu-buru Amber meninggalkan Suzy.

“Amber!!” Amber berlari ke luar sekolah tanpa memperdulikan pelajaranya.

“Haishh terlalu jauh jika aku berjalan!” Amber memeriksa dompetnya tapi sayang uangya tidak cukup.

“Haishh apa boleh buat!” Amber memutuskan untuk berlari sekalipun akan membuat kakinya terasa sakit.

Amber terus berlari dan sesekali iya berhenti untuk mengatur nafasnya “Haishh langit sudah mulai gelap” Amber kembali melanjutkan langkahnya dengan telapak kaki yang terasa sakit tapi itu tidak menghalangi Amber.

Amber menghentikan langkahnya dan mengatur nafasnya, Amber serasa mau mati karena nafasnya yang tidak beraturan di tambah dengan musim dingin yang mulai datang. Dirasa cukup Amber berjalan kecil menuju sebuah restoran yang di ucapkan oleh Suzy.

Langkah Amber berhenti tepat di depan restoran , mata Amber melihat sekeliling. Iya merasa heran karena restoran tersebut sangat gelap dan pintunya di tutup serta di garisi garis polisi, Amber mencoba mengintip tapi nihil.

“Haishh!”

“Hei anak muda, restoran itu baru saja tutup” Amber menoleh ke arah sumber suara.

“Baru saja tutup?”

“Iya, aku lihat tadi ada beberapa pemuda membuat onar di restoran itu sehingga membuat restoran itu menjadi berantakan dan ku dengar ada korban yang terluka akibat terkena pecahan botol dan dia seoarang yeoja” Amber menghela nafasnya.

“Apa?!” Amber hanya diam mematung.

“Dan sepertinya restoran itu tidak akan buka lagi” Amber diam mendengarnya.

“Tidak mungkin, tidak mungkin” Amber menggelengkan kepalanya.

Amber pergi meninggalkan restoran itu dan pergi tanpa arah tujuan karena terus mengkhawatirkan Krystal, sesekali badan Amber menabrak pejalan kaki yang di depanya hingga membuat badanya hampir terjatuh. Amber benar-benar terlihat berantakan.

Amber berjalan menghindari keramaian “Hi anak muda”

“Apakah kau memiliki uang? kami membutuhkan uang bisakah kau memberikan nya kepada kami?” Amber hanya diam.

“Ya! kau tuli?” Amber menatap 4 orang namja yang tengah mabuk.

“Pergilah” Amber berjalan melewati mereka.

“Haishh! ya!” badan Amber di tarik “Berikan kami uang! atau tidak kami akan membunuhmu!”

“Bunuh saja aku” jawab Amber dengan mata yang lelah.

“Kau menantangku?! baiklah” di pukulah Amber di wajahnya yang membuatnya jatuh mengenai aspal yang kasar, Amber terus di pukuli hingga hidung serta bibirnya mengeluarkan darah segar.

“Periksa kantongnya” setelah puas memukuli Amber para namja itu memeriksa kantong celana Amber dan mengambil dompetnya.

“Ayo kita pergi” para namja itu meninggalkan Amber yang masih tergeletak kaku di aspal jalan. amber berusha untuk berdiri tapi sangat susah karena iya sangat lelah dan merasakan sakit sakit di badanya, Amber hanya bisa berlutut dan menatap kebawah dengan darah yang masih menetes.

“Dasar bodoh” mata Amber terbuka lebar saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya, dengan perlahan Amber mengangkat kepalanya dengan tatapan mata tidak percaya.

“Kau adalah orang terbodoh yang pernah aku kenal” Amber masih diam menatap sosok yeoja di depanya.

Amber berusaha bangun dan kembali memperhatikan yeoja yang iya khawatirkan setengah mati “Stupid”

“Lihat dirimu, mengapa kau tidak melawan mereka? mengapa kau hanya diam saja di pukuli oleh mereka?” Amber menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak merasakan sakit jadi untuk apa aku membalasnya” mereka berdua saling bertatapan satu sama lain, dengan perlahan kaki Amber berjalan ke arah yeoja berambut panjang dengan memakai coat berawarna abuabu.

Amber kini berdiri tepat di depanya, wangi khasnya mulai kembali tercium di hidung Amber, aura yang dingin dengan hati yang hangat mulai kembali terasa oleh Amber.

“Kumohon”

“Jangan seperti ini lagi” Amber menatap dengan tatapan memelas.

“Kau sungguh membuatku menderita” mereka masih bertatapan.

“Maafkan aku bila aku menyakitimu. kau bisa menghukum ku, kau bisa melakukan apa saja terhadap diriku, tapi tolong jangan seperti ini. Jangan membuatku seperti orang yang tidak waras, jangan membuatku terus menunggumu di depan pintu, jangan membuatku terus berlari untuk mencarimu”

Amber mendekatkan lebih dekat dirinya kepada yeoja yang terus menatapnya, di lingkarkan tangan Amber ke bahu yeoja itu dan memberikan pelukan yang sangat erat.

“Aku sungguh merindukanmu”

“Jangan tinggalkan aku…”

“Krystal”

———————————————————————————————-

okay short update and late update hahaha, sorry semua gw lagi sibuk ngurusin tempat kuliah gw yang baru dan sedang beradaptasi di lingkungan yang baru hehe..

Akhir akhir ini gw sibuk bgt huhuhu dan bakalan update lama tapi gw bakal selesai nih ff kok jangan khawatir hehe…

Pasti kalian bertanya tanya kemana selama ini Krystal pergi? semua akan terjawab di part 6.

terus gimna perasaan Amber kepada Krystal? hanya sekedar khawatirkah? atau Amber hanya merasa kesepian karena Krystal ninggalin dia? atauuu Amber hanya kebawa perasaanya buat ngejagain Krystal? atau jangan jangan Amber……

Terus kenapa Krystal lari pas dia liat Amber dan Suzy pelukan? cemburu? cemburu bukan berarti suka kan… yakinkan perasaanmu princess, lo lari karena cemburu atau gak mau Amber deket sama yang lain? atau mungkin gak mau perhatian Amber kebagi sama yang lain. Atau cuma kebawa perasaan kesal Krystal terhadap dirinya sendiri?

terus gmna nasib Krystal?

 

hahahahha…

Guys jangan lupa ya kaliam semua dukung Amber dan kalo bisa beli albumnya hehe, dan berdoa aja semoga di album solo Amber bakal ada duet Krystal dan Amber ahahha!

okay semua sampai jumpa sorry kalo banyak kata kata yang gak sesuai atau bikin bingung maklum masih anak bawang hehe , kalo ada yang mau di tanya kalian bisa send email ke gw : aidenjosephine@yahoo.com

Tot Ziens!